Dimas tidak mampu berucap apapun hati nya masih teralalu senang mendapati perhatian Nadilla lagi walaupun terlihat tidak begitu keluar lagi dari kamar nya membawa sesuatu."Ini ganti dulu baju nya, Aku tidak ingin di omeli Mama gara-gara membiarkan mu memakai baju basah!" ujarnya memberikan baju, Dimas meraih mengangkat dan memandangi baju di tangan nya."Bekas kekasih mu ?""Pakai saja, tidak perlu banyak tanya!""Tidak mau!" tolak nya meletakkan lagi pakaian yang pegang mencebikan bibir nya,"Terserah,itu kaos over size baru ku, mana mungkin aku memberikan baju kekasih ku untuk mu,"Dimas meraih lagi baju nya dan akan membuka baju basah menutup wajah nya," Eh.....eh...Kau tidak sopan ganti di kamar mandi sana!"Dimas tersenyum malu dan berjalan ke kamar mandi untuk segera mengganti membuka lagi tutupan wajah nya dan berjalan meraih kantong-kantong belanjaan nya yang semalam di biarkan tergetak di lantai dapur nya mulai menyusun beberapa buah dan sayuran ke lemari pendingin nya meletakan beberapa cemilan dan mie instan di atas meja nya dengan ekor mata nya kini melirik Dimas yang keluar dari kamar mendehemm...."Ehem....jika tidak ada yang penting pulang lah!! Aku ingin melanjutkan tidur ku, besok aku harus bekerja!" Sindirnya"Tapi kau Ikut lah bersama ku Mama ingin bertemu dengan mu!""Mama ingin bertemu?"Nadilla menghentikan aktivitas nya."Kenapa tidak kau katakan langsung tadi malam! Jadi kau tidak harus menunggu di luar semalaman "Dimas mencebikan bibir nya."Bagaimana bisa aku katakan belum sempat aku bicara kau sudah membanting dan menutup pintu""Bukan apa-apa, Aku terlalu malas untuk berbasa-basi, Aku hanya tidak ingin di cap sebagai wanita penggangu calon suami orang!""Calon Suami orang?" Dimas membulatkan mata nya dan berjalan ke arah Nadilla lebih dekat."Mundur-mundur jangan mendekat " ucap nya membidik dan memundurkan langkah nya" Apa maksud mu suami orang? Katakan Nadilla !!, kita sudah sering salah paham , Aku tidak ingin terus - terus hidup dalam kesalah pahaman!""Hidup dalam Kesalah pahaman tidak mau, Tapi hidup trus saling berdekapan kau suka bukan?" ejek nya menutupi kekesalan nya."Nadilla! aku tidak sedang bercanda kenapa kau menjadi lebih banyak bicara" Kesal Dimas mendapati Nadilla terus berbicara aneh yang tidak mampu di pahami oleh nya."Siapa yang banyak bicara? AKU!" Nadilla menunjuk diri nya hati ku sakit lantas jika tidak banyak bicara aku harus bagaimana."Sudah lah aku ingin tidur lagi ini masih cukup gelap besok pagi aku akan kerumah Mama" ucap nya melangkah ke arah kamar nya ."Tidur lah, Jika kau tidak berniat mengatakan maksud ucapan mu aku akan ikut masuk ke kamar mu !" gertak nya."Wow kau mengancam ku Tuan Malliw? Pergi sekarang dari rumah ku, kita tidak ada hubungan apa-apa!" ucap nya dingin tangan nya menunjuk ke arah pintuDimas mendengus"Baiklah jika kau ingin aku pergi tapi jangan salah kan aku jika satu kontrakan mu akan bangun dan keluar melihat ke arah ku, tamu mu!" Ancam nya dan berjalan menautkan kedua alis nya, "Apa maksud nya? Nadilla berfikiran buruk, "Jangan-jangan dia–"Dim Dimas ....!!" panggil nya berjalan ke pintu ke arah Dimas yang sudah keluar, benar apa yang di fikir nya Dimas seperti nya akan berbuat sudah berdiri di susunan Bata di depan gerbang kontrakan nya terlihat jelas di luar masih sangat gelap mungkin semua penghuni kontrakan masih tertidur lelap di tambah cuaca setelah hujan masih sangat dingin menusuk kulit,"Pria tidak waras... mau apa dia apa ingin berteriak membangunkan orang -orang yang masih terlelap ?" Nadilla berjalan cepat. "Turun kata ku! "Dimas menggelengkan kepala nya menolak."Tidak mau!""Turun..... Dimas! turun.......kataku!!""Tidak...!"Nadilla melayangkan tangan nya mengisyaratkan akan mengatakan maksud ucapan nya jika dia turun"Janji!!" Dimas segera mengiyakan dan segera lompat dari batuan yang tersusun merekahkan senyuman nya."Aku tidak segila itu Nadilla ..." gumam nya dan berjalan lagibke arah Nadilla yang kembali masuk ke kontrakan nya dengan bibir cantik nya yang terus menggerutu atas kelakuan konyol ponsel di dalam saku nya berdering " Siapa yang menelpon jam segini ""Mama.." Dimas khawatir seketika, segera menggeser layar ponsel nya."Ya ma, Ada apa?""Dim.. Mama ngedrop!" bukan suara Mama tapi tidak lain adalah Tuan Hadiwinata "Papa sudah membawa nya ke ICU di rumah sakit biasa""Aku akan segera kesana pa!" ujar Dimas seketika masuk ke kontrakan Nadilla,"Nad.. Nadilla ... " panggil nya panik dan melihat Nadilla di dalam pun menoleh ke arah nya."Apa?""Nad.. Mama drop, Aku akan kerumah sakit!"Nadilla terkesiap, "Apa! iya-iya, Aku akan ikut kerumah sakit juga Dim!" Nadilla meraih ponsel nya dan kunci mobil nya di atas nakas segera mengikuti langkah cepat Dimas tanpa mengganti pakaian nya."Aku pergi dengan mobil ku sendiri saja Dim.."Dimas segera menarik tangan nya,"Kita akan pergi bersama!" Dan entah kenapa Nadilla dengan mudah mengiyakan segera masuk dan duduk di sebelah masih sangat lengang hari masih begitu gelap hanya beberapa kendaraan yang berlalu lalang Dimas lebih fokus ke jalanantangan kiri sesekali menyentuh kepala nya sesekali meraup wajah nya terlihat jelas wajah kekhawatiran sesekali pula Nadilla melirik nya tidak ada percakapan di sana hingga mobil tiba di rumah segera turun dari mobil nya berhenti menunggu seberntar Nadilla yang berjalan ke arah nya, Dimas seperti nya sudah lupa dengan maksud ucapan Nadilla yang tadi ingin di ketahui berjalan menggandeng tangan Nadilla dan Nadilla mengambil tangan nya lalu melepaskan dengan lembut, Dimas memutar leher nya menatap wajah Nadilla."Ku mohon bersikaplah seolah kita sudah berbaikan di depan Mama dan Papa.." pinta nya lembutDan Nadilla mengganguk mengiyakan, membiarkan tangan nya di bawa lagi oleh Dimas."Ini Hanya karena Mama Nadilla, kau jangan terlalu senang, dia juga adalah calon suami orang " gumam nya lagi mengingat kembali Ucapan Claudia kepada menjelang Hadiwinata masih belum keluar dari ICU, Tuan Hadiwinata Dimas duduk sejajar di depan ruangan ICU sementara Nadilla duduk sendiri di kursi di ruangan yang bersebrangan dengan ICU menjatuhkan kepala nya dengan wajah kelelahan nya ke sandaran kursi mata nya tampak meluruskan pandangan nya melihat Nadilla yang seperti nya tertidur lalu berpindah duduk ke sebelah Nadilla menyentuh lembut kepala Nadilla dan menjatuhkan nya di bahu nya Dimas tersenyum memandang lamat-lamat wajah cantik Nadilla yang bersandar di bahu nya,"Kau Nadilla ku,... " ucap nya yang juga menutup mata nya merasa kantuk karena tidak cukup tidur malam Hadiwinata melurusakan pandangan di depan nya, sedikit tersenyum melihat kemesraan Kedua anak dan bekas menantu nya. "Semoga segera bersama lagi, Mama akan bahagia melihat ini "Terdengar iringan roda-roda beberapa orang perawat mendorong pasien masuk ke dalam ruangan ICU, seketika membangunkan Nadilla dari tidur nya, Nadilla mengerjabkan Mata nya, masih posisi kepala menyandar nya melirik orang yang baru di bawa ke dalam ICU, lalu melihat lurus ke arah orang di depan nya."Hanya papa, pergi kemana dia? Fikir nya lalu Nadilla Merasakan ada hembusan hangat di kepala nya, "Oooh Sial.. Nadilla bodoh !'' umpat nya mengangkat kepala nya, wajah nya seketika memerah mengingat ternyata sedari tadi aku tidur bahu nya, pantas terasa sangat nyaman " gumam nya
.