The3D printed fluorescent microscope consisted of a smartphone holder, additional lens, a CMOS sensor, diffraction grating, an optical filter and a laser (Fig. 3c). Although quite bulky, the device was able to convert RGB values to wavelengths (0.2 nm per pixel) utilising laser calibration, and thus could go beyond the 8-bit dynamic range and
Bodi SajaDSC-RX0M2Kit Pegangan Bodi + Pengambilan GambarDSC-RX0M2GGambaran umumSpesifikasi & FiturUlasanTerkaitDukunganRX0 II kamera premium mungil dan tangguhGambaran umumSpesifikasi & FiturUlasanTerkaitDukungan Perangkat lunak baru kini perangkat lunak ini memungkinkan live streaming dan komunikasi online berkualitas tinggi. Kualitas gambar premium dari bodi ultra compactRX0 II adalah teman ideal dalam kehidupan. Kamera ini menangkap gambar memukau, bahkan dalam cahaya yang redup, dengan sensor berkemampuan tinggi tipe dan lensa distorsi rendah ZEISS Tessar T*, dan gambar bisa dibagikan dengan mudah menggunakan smartphone. RX0 II juga memiliki perekaman film 4K internal, stabilisasi gambar yang mengesankan, jarak fokus minimum 20 cm, dan layar LCD yang dapat dimiringkan 180°. Desain kuat, dibuat untuk performaKetangguhan kamera yang bisa dibawa ke mana saja ini terlihat dari desain sederhana dengan alur dan garis bersih, tanpa tonjolan yang tidak perlu. Bodi ekstra super duraluminnya sangat kuat tetapi tetap ringan. Pas di kantong, dan kehidupan Anda Diciptakan untuk gambar optimalTangkap kehidupan dari setiap sudut Perluas pilihan kreatif AndaDilengkapi kemampuan pemrosesan gambar Foto dan film resolusi tinggi yang tajamBodi mungil RX0 II berisi teknologi gambar tercanggih, yang didesain untuk menghasilkan gambar indah dalam situasi pengambilan gambar apa pun yang mungkin ditemui. Clear Image Zoom memungkinkan zoom hingga 2x dengan penurunan kualitas yang memukau dan noise rendahSensor CMOS Exmor RS™ tipe berfungsi bersama mesin pemroses gambar tingkat lanjut BIONZ X™ untuk menghasilkan rentang dinamis lebar, mengurangi noise, serta menampilkan detail natural dan gradasi rona yang kaya. Lensa ZEISS Tessar T*Lensa F4 sudut lebar ZEISS Tessar T* 24mm menghasilkan gambar indah di hampir segala kondisi pengambilan, dengan peningkatan kontras dan ketajaman, dan pengurangan Kulit HalusUntuk potret dan selfie yang lebih baik, mode Kulit Halus kamera mengurangi kerutan halus pada wajah dan kulit kusam tanpa kehilangan detail mata dan mulut AFKetika Anda mengambil potret dan selfie, fungsi Eye AF pada RX0 II disetel khusus agar fokus otomatis pada mata subjek. Film resolusi tinggi yang indahRekaman film 4K internal dengan pembacaan piksel penuhRX0 II memungkinkan Anda merekam film 4K dengan pembacaan piksel penuh dan tanpa pixel binning, menggunakan oversampling 1,7x untuk membantu menghasilkan gambar dan adegan yang jernih memukau. Meski berukuran kecil, kamera ini mendukung rekaman internal 4K 30p QFHD 3840 x 2160, sehingga ideal untuk merekam film 4K dengan kualitas gambar tinggi ketika bepergian atau ketika merekam adegan dari kehidupan sehari-hari. Menjadikan film hebat semakin hebatStabilisasi gambar elektronik baru membantu merekam film memukau, dan tambahan Movie Edit untuk smartphone menghasilkan gambar yang halus, menyerupai pengambilan gambar dengan gimbal. Movie Edit juga secara otomatis menjaga subjek dalam bingkai, bahkan ketika film dipotong agar sesuai layar smartphone dan dibagikan di media sosial. Kukuh dan tangguh, ambil gambar tanpa waswasSuper compact dan ringan, RX0 II dibuat kokoh dan tangguh. Masukkan ke tas atau bawa menggunakan talinya, dan gunakan di tempat di mana Anda tak pernah bisa mengambil gambar sebelumnya. Ultra compact dan siap berpetualangRX0 II adalah kamera hebat nan mungil. Mudah dibawa ke mana saja dan menghasilkan gambar kualitas tinggi setiap kali mengambil gambar. Desainnya yang sederhana dan sedikit tonjolan membuatnya lebih mudah disetel, dibawa, dan disimpan. Tahan air/tahan debuHingga 10 meter/33 kakiUntuk snorkeling di air tawar, mengambil gambar di tepi kolam atau ditengah hujan badai- RX0 II menghadirkan beragam opsi pengambilan gambar. Tak perlu waswas air hujan atau tumpahan minuman, Anda juga bisa membidik dengan nyaman di lokasi yang berangin dan berdebu. Semua bisa dilakukan tanda memerlukan case tahan air atau aksesori tambahan. Tahan guncanganDari ketinggian 2,0 meter/6,5 kakiBerkat desain tahan guncangan, Anda tidak perlu mencemaskan kecelakaan yang kadang terjadi - bodi kokoh RX0 II dibuat agar tahan terhadap benturan akibat jatuh dari ketinggian 2,0 meter 6,5 kaki. AntipecahHingga 200 kgf/440 lbf/2000 NRawat seperlunya – masukkan saja kamera ke dalam tas atau saku, atau bawa ke mana saja tanpa perlu cemas. Monitor LCD dapat dimiringkan, sempurna untuk selfieMonitor LCD bisa miring ke atas sekitar 180°, selfie dan vlogging jadi semakin mudah. Desainnya tahan air dan tahan debu, sehingga bisa digunakan untuk mengambil gambar di bawah air. Monitor juga bisa miring ke bawah, sekitar 90°, untuk membantu pengambilan gambar dari sudut tinggi. Lebih terkontrol dengan pegangan pengambilan gambar opsionalPegangan VCT-SGR1 dilengkapi kontrol terintegrasi untuk menekan pelepas rana dan mengoperasikan tombol rekam dan zoom kamera dari pegangan. Pegangan ini juga bisa diubah menjadi tripod meja. Mikrofon eksternal untuk suara kualitas tinggiMeski berukuran ultra compact, RX0 II dilengkapi jack mikrofon untuk memasang mikrofon eksternal untuk kualitas suara vlog dan film yang lebih baik. Film gerakan super lambat dari pengambilan 960 fps/1000 fps Pengambilan gambar pada tingkat kecepatan per frame hingga 960fps/1000fps menangkap adegan sangat cepat dan memungkinkan pembuatan adegan film gerakan super lambat. Anda juga bisa merekam dalam resolusi Full HD hingga 120fps/100fps. Rekaman interval untuk film time-lapseFitur rekaman interval baru pada kamera memungkinkan pengambilan gambar kontinu dengan interval antara 1 dan 60 detik. Gambar diam kemudian dapat diedit menjadi film time-lapse di PC. Gambar kontinu hingga 16 fps dengan pengurangan blackoutBerkat kemampuan pengambilan gambar kontinu RX0 II, mengabadikan momen penting atau ekspresi wajah jadi lebih cepat dan mengagumkan. Hingga 129 gambar JPEG Standar dapat diambil dalam sekali burst. Rana anti-distorsi hingga 1/ dtk. Rana Anti-Distorsi memungkinkan kecepatan rana hingga 1/ dtk, dan didesain untuk meminimalkan fenomena rana berputar yang dapat mendistorsi gambar objek yang bergerak Gambar yang cocok bagi pengguna profesionalDengan fitur Profil Gambar dan S-Log2, Anda dapat menentukan keseluruhan nuansa produksi film dari bodi kamera, mengatur parameter yang memengaruhi tampilan akhir film. Nikmati percakapan video di layar besar BRAVIAMengobrol dengan teman dan keluarga di layar besar dengan menghubungkan kamera ke TV BRAVIA. Webcam Imaging Edge™Imaging Edge Webcam mempermudah pemakaian kamera Sony sebagai webcam berkualitas berkat kompatibilitas yang beragam, untuk live streaming dan konferensi yang mengesankan. Kontrol multi-kamera nirkabel Sempurna untuk digunakan sehari-hari dengan smartphoneAplikasi Imaging Edge Mobile dari Sony memungkinkan beberapa kamera dikontrol dari smartphone atau perangkat mobile lainnya. Konektivitas nirkabel memberikan keleluasaan untuk memosisikan kamera yang kukuh dan mungil ini di mana pun. Bidikan multi-kamera dengan koneksi kabelKontrol yang presisi dan akurat memenuhi kebutuhan alur kerja profesionalDengan Camera Control Box CCB-WD1 opsional, Anda dapat mengontrol beberapa kamera sekaligus, memantau dan mengubah setelan jarak jauh dari PC yang terhubung. Ini menghasilkan koneksi stabil ke kamera yang mendukung sinkronisasi beberapa kamera secara akurat, dan memungkinkan transfer file cepat dari kamera untuk memudahkan manajemen file. Spesifikasi & FiturRX0 II berukuran ultra compact, dengan bodi kokoh dan tangguh yang kedap air, tahan guncangan dan tahan tindihan. Monitor yang dapat dimiringkan 180° membuat Anda dapat membingkai potret diri dan petualangan vlog, sedangkan sensor tipe dan prosesor gambar tingkat lanjut menghasilkan rona kulit yang cantik dan memungkinkan Eye AF. Kemampuan perekaman film 4K 30p internal mendukung stabilisasi F4 ZEISS Tessar T* 24mm sudut lebar LCD yang dapat dimiringkan 180 derajat Perekaman internal film 4K Gerakan super lambat hingga 960 fps/1000 fps Tipe SensorSensor CMOS Exmor RS tipe 13,2 mm x 8,8 mm, rasio aspek 32Jumlah Piksel EfektifSekitar 15,3 MegapikselKedap airYa ekuivalen IPX8Tahan tindihanYa200 kgf/2000N/440 lbfSensitivitas ISO FotoRecommended Exposure IndexAuto ISO125-12800, dapat dipilih dengan batas atas/bawah, 125/160/200/250/320/400/500/640/800/1000/1250/1600/2000/2500/3200/4000/5000/6400/8000/10000/12800 Dapat ditingkatkan ke ISO80/100, Multi-Frame NR Otomatis ISO200-25600, 200/400/800/1600/3200/6400/12800/25600Sony berkomitmen untuk tidak hanya menyediakan produk, layanan, dan konten yang memberikan pengalaman seru, tetapi juga bekerja keras untuk mencapai footprint lingkungan nol melalui kegiatan bisnis kami. Pelajari selengkapnya tentang Sony dan Lingkungan Kata berdasarkan 40 ulasan pelanggan
DJIAir 2S - Drohnen-Quadkopter, 3-Achsen-Gimbal mit Kamera, 5,4K Video, 1-Zoll CMOS-Sensor, Hindernisvermeidung in 4 Richtungen, 31 Minuten Flugzeit, 12km FHD Transmission (FCC), MasterShots, Grau. Smartphone mit Controller verbinden, dann einschalten (1x kurz – 1x lang Drücken) 6. Drohne einschalten (1x kurz – 1x lang Drücken)
Salah satu aspek yang dilihat saat menilai kualitas kamera digital adalah sensornya. Kita tahu sensor pada kamera digital adalah rangkaian peka cahaya, tempat gambar dibentuk dan dirubah menjadi sinyal data. Tidak semua kamera digital punya ukuran sensor yang sama. Sesuai bentuknya, kamera digital yang kecil umumnya pakai sensor yang juga kecil, sedangkan kamera mirrorless dan DSLR memakai sensor yang lebih besar. Sensor dengan luas penampang sama dengan ukuran film 35mm disebut sensor full frame. Mengapa penting untuk mengenal ukuran sensor di kamera digital? Karena ukuran sensor berkaitan dengan kemampuan menangkap cahaya dan menentukan bagus tidaknya hasil foto yang diambil. Sekeping sensor pada dasarnya merupakan sekumpulan piksel yang peka cahaya, saat ini umumnya sekeping sensor punya 10 juta piksel bahkan lebih. Makin banyak piksel, makin detil foto yang bisa direkam. Tapi saat bicara kualitas hasil foto, kita perlu mencari lebih jauh info ukuran sensornya, bukan sekedar berapa juta pikselnya saja. Megapiksel, atau resolusi sensor, saat ini seperti jadi cara efektif untuk marketing. Maka itu ponsel berkamera pun dibuat punya sensor yang megapikselnya tinggi. Pun demikian dengan kamera saku sampai kamera canggih, semua berlomba menjual megapiksel’ ini. Bayangkan sensor kecil yang dijejali piksel begitu banyak, seperti apa rapat dan sempitnya piksel-piksel itu berhimpit? Dibawah ini adalah contoh ilustrasi ukuran sensor, dua di sebelah kiri yang berwarna merah adalah mewakili sensor kecil, umumnya ditemui di kamera saku. Sensor kecil memang murah dalam hal biaya produksi, dan bisa membuat bentuk kamera jadi sangat kecil. Di sisi lain, ukuran sensor yang lebih besar memang lebih mahal dan kamera/lensanya jadi lebih besar. Tapi keuntungannya dengan luas penampang yang lebih besar, tiap piksel punya ukuran yang lebih besar dan mampu menangkap cahaya dengan lebih baik. Maka itu saat kondisi kurang cahaya, dimana kamera tentu akan menaikkan ISO kepekaan sensor, yang terjadi adalah hasil foto dari kamera dengan sensor besar punya hasil foto yang lebih baik. Sedangkan di ISO tinggi, kamera sensor kecil akan dipenuhi bercak noise yang mengganggu. Noise ini oleh kamera modern dicoba untuk dikurangi secara otomatis lewat prosesor kamera namun yang terjadi hasil fotonya jadi tidak natural seperti lukisan cat air. Sensor CMOS vs sensor CCD Perbedaan utama desain CMOS dan CCD adalah pada sirkuit digitalnya. Setiap piksel pada sensor CMOS sudah memakai sistem chip yang langsung mengkonversi tegangan menjadi data, sementara piksel-piksel pada sensor CCD hanya berupa photodioda yang mengeluarkan sinyal analog sehingga perlu rangkaian terpisah untuk merubah dari analog ke digital/ADC. Anda mungkin penasaran mengapa banyak produsen yang kini beralih ke sensor CMOS, padahal secara hasil foto sensor CCD juga sudah memenuhi standar. Alasan utamanya menurut saya adalah soal kepraktisan, dimana sekeping sensor CMOS sudah mampu memberi keluaran data digital siap olah sehingga meniadakan biaya untuk membuat rangkaian ADC. Selain itu sensor CMOS juga punya kemampuan untuk diajak bekerja cepat yaitu sanggup mengambil banyak foto dalam waktu satu detik. Ini tentu menguntungkan bagi produsen yang ingin menjual fitur high speed burst. Faktor lain yang juga perlu dicatat adalah sensor CMOS lebih hemat energi sehingga pemakaian baterai lebih awet. Maka itu tak heran kini semakin banyak kamera digital DSLR maupun kamera saku yang akhirnya beralih ke sensor CMOS. Adapun soal kemampuan sensor CMOS dalam ISO tinggi pada dasarnya tak berbeda dengan sensor CCD dimana noise yang ditimbulkan juga linier dengan kenaikan ISO. Kalau ada klaim sensor CMOS lebih aman dari noise maka itu hanya kecerdikan produsen dalam mengatur noise reduction. Cara sensor menangkap’ warna Sensor gambar pada dasarnya merupakan perpaduan dari chip peka cahaya untuk mendapat informasi terang gelap dan filter warna untuk merekam warna seakurat mungkin. Di era fotografi film, pada sebuah roll film terdapat tiga lapis emulsi yang peka terhadap warna merah Red, hijau Green dan biru Blue. Di era digital, sensor kamera memiliki bermacam variasi desain teknologi filter warna tergantung produsennya dan harga sensornya. Cara kerja filter warna cukup simpel, misal seberkas cahaya polikromatik multi warna melalui filter merah, maka warna apapun selain warna merah tidak bisa lolos melewati filter itu. Dengan begitu sensor hanya akan menghasilkan warna merah saja. Untuk mewujudkan jutaan kombinasi warna seperti keadaan aslinya, cukup memakai tiga warna filter yaitu RGB sama seperti film dan pencampuran dari ketiga warna komplementer itu bisa menghasilkan aneka warna yang sangat banyak. Hal yang sama kita bisa jumpai juga di layar LCD seperti komputer atau ponsel yang tersusun dari piksel RGB. Bayer CFA Sesuai nama penemunya yaitu Bryce Bayer, seorang ilmuwan dari Kodak pertama kali memperkenalkan teknik ini di tahun 1970. Sensor dengan desain Bayer Color Filter Array CFA termasuk sensor paling banyak dipakai di kamera digital hingga saat ini. Keuntungan desain sensor Bayer adalah desain mosaik filter warna yang simpel cukup satu lapis, namun sudah mencakup tiga elemen warna dasar yaitu RGB lihat ilustrasi di atas. Kerugiannya adalah setiap satu piksel pada dasarnya hanya melihat’ satu warna, maka untuk bisa menampilkan warna yang sebenarnya perlu dilakukan teknik color sampling dengan perhitungan rumit berupa interpolasi demosaicing. Perhatikan ilustrasi mosaik piksel di bawah ini, ternyata filter warna hijau punya jumlah yang lebih banyak dibanding warna merah dan biru. Hal ini dibuat mengikuti sifat mata manusia yang lebih peka terhadap warna hijau. Kekurangan sensor Bayer yang paling disayangkan adalah hasil foto yang didapat dengan cara interpolasi tidak bisa menampilkan warna sebaik aslinya. Selain itu kerap terjadi moire pada saat sensor menangkap pola garis yang rapat seperti motif di kemeja atau pada bangunan. Cara termudah mengurangi moire adalah dengan memasang filter low pass yang bersifat anti aliasing, yang membuat ketajaman foto sedikit menurun. Sensor X Trans Sensor dengan nama X Trans dikembangkan secara ekslusif oleh Fujifilm, dan digunakan pada beberapa kamera kelas atas Fuji seperti X-E2 dan X-T1. Desain filter warna di sensor X Trans merupakan pengembangan dari desain Bayer yang punya kesamaan bahwa setiap piksel hanya bisa melihat satu warna. Bedanya, Fuji menata ulang susunan filter warna RGBnya. Bila pada desain Bayer kita menemui dua piksel hijau, satu merah dan satu biru pada grid 2×2, maka di sensor X Trans kita akan menemui pola grid 6×6 yang berulang. Nama X trans sepertinya diambil dari susunan piksel hijau dalam grid 6×6 yang membentuk huruf X seperti contoh di bawah ini. Fuji mengklaim beberapa keunggulan desain X Trans seperti tidak perlu filter low pass, karena desain pikselnya sudah aman dari moire terhindar dari false colour, karena setiap baris piksel punya semua elemen warna RGB tata letak filter warna yang agak acak memberi kesan grain layaknya film Sepintas kita bisa setuju kalau desain X Trans lebih baik daripada Bayer, namun ada beberapa hal yang masih jadi kendala dari desain X Trans ini, yaitu hampir tidak mungkin Fuji akan memberikan lisensi X Trans ke produsen kamera lain artinya hanya pemilik kamera Fuji tipe tertentu yang bisa menikmati sensor ini. Kendala lain adalah sulitnya dukungan aplikasi editing untuk bisa membaca file RAW dari sensor X Trans ini. Sensor Foveon X3 Foveon sementara ini juga ekslusif dikembangakan untuk kamera Sigma tipe tertentu. Dibanding sensor lain yang cuma punya satu lapis filter warna, sensor Foveon punya tiga lapis filter warna yaitu lapisan merah, hijau dan biru. Desain ini persis sama dengan desain emulsi warna pada roll film foto. Hasil foto dari sensor Foveon memberikan warna yang akurat dan cenderung vibrant, bahasa gampangnya seindah warna aslinya. Hal yang wajar karena setiap photo detector di sensor Foveon memang menerima informasi warna yang utuh dan tidak diperlukan lagi proses menebak’ warna seperti sensor Bayer atau X-Trans. Yang jadi polemik dalam sensor Foveon adalah jumlah piksel aktual. Misalnya ada tiga lapis filter warna yang masing-masing berjumlah 3,4 juta piksel, maka Foveon menyebut sensornya adalah sensor 10,2 MP karena didapat dari 3 lapis filter 3,4 MP. Ini agak rancu karena saat foto yang dihasilkan dari sensor Foveon kita lihat resolusi gambarn efektifnya memang hanya 2268 x 1512 piksel atau setara dengan 3,4 MP originalnya dan yang terbaru 15 MP. Meski demikian, karena kualitas di pixel levelnya sangat tinggi, maka saat diadu dalam cetak dengan foto buatan sensor Bayer, resolusinya seperti 2X yang tertera di file foto. Misalnya MP setara MP dan 15 MP setara 30 MP. tambahan oleh Enche Tjin Salah satu kelemahan dari sensor Foveon adalah noise yang sudah terasa mengganggu walau di ISO menengah seperti ISO 800. Tapi seiring peningkatan teknologi pengurang noise maka hal ini tidak akan jadi masalah serius di masa mendatang. Tambahan oleh Enche Tjin Kelebihan sensor Foveon adalah membuat foto dengan ketajaman dan micro-kontras yang sangat bagus sehingga detail foto lebih jelas dan tajam. Hal ini disebabkan karena tidak adanya filter AA Anti-Alias yang biasanya terdapat di sensor tipe Bayer. Juga tidak ada moire and chroma noise. Sehingga hasil dari sensor Foveon ini lebih murni daripada sensor lain. Kelemahan sensor ini yaitu diperlukan tenaga prosesor yang sangat besar dan relatif lama untuk memproses fotonya, selain itu juga menguras tenaga baterai. Kamera jadi lebih cepat panas. Kamera yang mengunakan Foveon ini sampai sekarang hanya Sigma, yaitu seri Sigma DP compact dan Sigma SD1 DSLR. Kesimpulan Teknologi sensor gambar masih terus berkembang, dari yang paling mudah dilihat seperti kenaikan resolusi megapiksel hingga teknologi lain yang bisa membuat hasil foto meningkat siginifkan. Yang saya cermati adalah era Bayer sudah terlampau usang, dengan teknik interpolasi yang banyak keterbatasan, perlu segera digantikan dengan metoda lain. Sensor X Trans buatan Fuji membawa angin segar dengan peningkatan kualitas foto dibanding sensor Bayer khususnya dalam hal ketajaman dan kekayaan warna, namun sayangnya tidak belum? bisa diadopsi di kamera lain. Sensor Foveon pun demikian, walau secara teknik paling menyerupai emulsi film yang artinya bakal memberi hasil foto yang paling baik justru dipakai di kamera yang jarang dijumpai seperti kamera Sigma. Sensor kamera yang paling ideal itu harus cukup banyak piksel detail, punya dynamic range lebih lebar dari sensor yang ada saat ini, punya filter warna yang lebih baik dari Bayer CFA, dan efisien harga, performa, kinerja ISO tinggi dsb. Kira-kira kapan ya sensor ideal ini bisa terwujud? About the author Erwin Mulyadi, penulis dan pengajar yang hobi fotografi, videografi dan travelling. Sempat berkarir cukup lama sebagai Broadcast Network TV engineer, kini Erwin bergabung menjadi instruktur tetap untuk kursus dan tour yang dikelola oleh infofotografi. Temui dan ikuti Erwin di LinkedIn dan instagram.

ImagingSensor: CMOS. Efficace MegaPixel: Circa 5MP. Marca: 8 milioni di euro, 13 milioni di euro, 16 milioni di pixel del modulo della macchina fotografica. I principali campi di applicazione: MP4, del telefono mobile, il consiglio, campanello visivo, industriale sistema di riconoscimento delle immagini, di identificazione delle impronte

Raksasa teknologi dari Negeri Sakura, Sony, dilaporkan sedang dalam pembicaraan bisnis untuk memasok sejumlah komponen kamera smartphone ke Apple guna disematkan ke perangkat iPhone terbaru. Sony berharap, kerja sama keduanya akan berlangsung minimal mulai tahun depan dilaporkan media bisnis asal Jepang, Nikkei, upaya Sony tersebut guna menggandakan keuntungan bisnisnya di bidang pasokan komponen smartphone. Untuk diketahui, hampir semua komponen sensor CMOS pada pada kamera utama iPhone 5S juga merupakan pasokan dari kemungkinan nantinya, pasokan komponen kamera dari Sony tersebut bakal disematkan di bagian depan iPhone alias kamera sekunder. Sony dianggap sebagai pemasok komponen perangkat teknologi high-definition yang memiliki sensor CMOS lebih besar. Dengan demikian ke depannya nanti, kamera sekunder pada perangkat iPhone terbaru dapat lebih baik untuk melakukan selfie maupun smartphone Android seri Xperia itu memang tidak membocorkan informasi bakal berapa banyak pesanan sensor CMOS-nya. Namun, menurut laporan Nikkei tersebut, kemungkinan besar Apple akan memesan lebih dari 100 juta unit tiap tahunnya. Bahkan, jumlah tersebut bisa lebih dari dua kali lipat bila seandainya smartphone terbaru Apple terjual sangat laris, seperti yang terjadi di masa Sony, bisnis di bidang pasokan komponen sensor kamera terbilang cukup baik. Selama tahun fiskal 2013 lalu, penjualan sensor CMOS-nya telah mencapai sekitar 360 miliar yen atau setara dengan Rp 37 triliun. Bahkan, pangsa pasarnya di bisnis tersebut telah mencapai sekitar 32,1 persen. Selain Apple, pelanggan utamanya pun juga berasal dari para pemain global, seperti Huawei dan Samsung.
Danambil momen malam hari terbaik dengan 14PM BSI CMOS Sensor, meskipun cahaya kurang, dijamin foto tetap terang!! Kondisi : Baru dan Bergaransi Resmi SAMSUNG Indonesia. (SEIN) Minat? hubungi Wahyu (085746248748), harga hanya 2.750.000. (FIX) Spesifikasi : Resolusi : 14.2 MP BSI CMOS Sensor; Lensa : 18x Optical Zoom; View Finder : LCD
Pegue um atalho Tamanho do sensor em polegadas de tubos analógicos a chips CMOS Área efetiva do sensor tamanho é documento Máscara Bayer e outras técnicas enxergando em cores Quad Bayer e Tetracell Sensor RYYB o mesmo em amarelo Software de câmera algoritmo é tudo Foco automático PDAF, 2x2 OCL e mais Atenção a tendência entre os celulares não é apenas para incluir mais sensores, mas também para adotar componentes maiores / © NextPit Tamanho do sensor em polegadas de tubos analógicos a chips CMOS Para começar, um pouco de história nas especificações das câmeras de celulares, o tamanho do sensor é sempre citado em uma medida exótica na notação 1/xyz polegada, por exemplo 1/1,72 polegada ou 1/2 polegada. Infelizmente, este tamanho não corresponde em nada ao tamanho real do sensor no celular. Vejamos a ficha técnica do IMX586 meia polegada deste sensor de 1/2 polegada corresponderia neste caso a 1,27 centímetro. Mas o tamanho real do Sony IMX586 não tem nada a ver com isso. Se multiplicarmos o tamanho dos pixels de 0,8 mícron pela resolução horizontal de pontos, obtemos apenas 6,4 milímetros, que é apenas metade. Se primeiro usarmos a horizontal e depois o bom e velho Pitágoras para a diagonal, obtemos 8,0 milímetros. Isso não é nem de perto o bastante. E aqui está o ponto crucial as especificações em polegadas foram adotadas há cerca de meio século, quando as câmeras de vídeo ainda dependiam de tubos de vácuo como conversores de imagem. Os departamentos de marketing mantêm a relação aproximada entre a área sensível à luz e diâmetro do tubo até hoje. E por isso um chip CMOS com uma diagonal de 0,31 polegadas é hoje em dia chamado de sensor de 1/2 polegada. "Na minha época, meu amigo" as designações em polegadas dos sensores de imagem datam de tempos como estes. Na foto Ionoscópio inventor Vladimir K. Zworykin ca. 1954 com alguns tubos conversores de imagem / © Domínio Público Se você quiser saber o tamanho real de um sensor de imagem, dê uma olhada na folha de dados do fabricante ou na página detalhada da Wikipedia sobre os tamanhos dos sensores de imagem. Ou você pode fazer como no exemplo acima e multiplicar o tamanho do pixel pela resolução horizontal ou vertical. Área do sensor quando tamanho é documento Por que o tamanho do sensor é tão importante? Imagine a luz caindo através da lente sobre o sensor como a chuva caindo do céu. Agora pense que você tem um décimo de segundo para estimar a quantidade de água que está caindo atualmente. Isto será relativamente difícil com um copo de shot, pois algumas gotas podem cair no copo em um décimo de segundo se chover muito, ou nenhuma gota se chover pouco ou se tiver um pouco de azar. Em qualquer caso, sua estimativa será muito imprecisa. Agora imagine que você tem uma piscina para a mesma tarefa. Com ela, você pode facilmente pegar algumas centenas ou milhares de gotas da chuva e pode estimar com precisão a quantidade de chuva com base na área de superfície. No caso dos sensores de imagem e a luz acontece o mesmo que com um copo de shot ou uma piscina, e a medição da chuva. Quanto mais escuro, menos fótons os conversores de luz capturam — e menos preciso é o resultado da medição. Essas imprecisões se manifestam posteriormente em erros como ruído de imagem, cores imprecisas, etc. Este gráfico mostra uma comparação de alguns dos formatos de sensores atualmente utilizados em celulares / © NextPit Tudo bem que em termos absolutos a diferença entre sensores de imagem nos celulares não é tão grande quanto a diferença entre um copo e uma piscina. Mas o já mencionado Sony IMX586 na câmera telefoto do Samsung Galaxy S20 Ultra é cerca de quatro vezes maior em área do que o sensor de 1/4,4 polegada na câmera telefoto do Xiaomi Mi Note 10. A sede por números cada vez maiores nos materiais de divulgação dos celulares é praticamente o mesmo que usar como velocidade máxima de um carro o valor irreal alcançado em queda livre / © Volkswagen, Montagem NextPit Matriz Bayer e outras técnicas para enxergar colorido Voltando para nossa comparação acima com a água da chuva, se colocássemos vezes baldes em um campo aberto, poderíamos determinar a quantidade de chuva caindo com uma "resolução" de 12 megapixels e registrar algum tipo de informação da saturação de água da nuvem passando por cima da região. Entretanto, se um sensor de imagem com 12 megapixels captasse a quantidade de luz com suas por armadilhas de fótons, a foto resultante seria preto e branco — porque medimos apenas a quantidade absoluta de luz. Não podemos distinguir as cores nesse exemplo, assim como um balde não pode distinguir o tamanho das gotas de chuva que caem sobre ele. Então como transformar a foto em preto-e-branco em uma foto colorida? O truque é aplicar uma máscara colorida sobre o sensor, a chamada matriz Bayer ou filtro Bayer. Isto garante que somente a luz vermelha, azul ou verde atinja os pixels. Com a clássica matriz Bayer com layout RGGB, um sensor de 12 megapixels tem então seis milhões de pixels verdes e três milhões de pixels vermelhos e azuis cada um. O olho humano pode distinguir melhor os tons verdes. Assim, os sensores de imagem das câmeras também são melhor posicionados aqui e têm o dobro de pixels verdes do que os pixels azuis ou vermelhos. À direita está uma matriz RYB - aqui os pixels verdes foram trocados por amarelos / © NextPit A fim de gerar uma imagem com doze milhões de pixels RGB a partir destes dados, o processamento da imagem normalmente começa com o desmosaico dos pixels verdes ou interpolação. Usando os pixels vermelhos e azuis ao redor, o algoritmo calcula então — de forma muito simplificada — um valor RGB para cada pixel. Na prática, os algoritmos de interpolação são muito mais inteligentes, por exemplo, para evitar "franjas" coloridas nas bordas dos objetos. O mesmo processamento é aplicado com os pixels vermelhos e azuis, e uma foto colorida vai então para a memória interna do seu celular. Quad Bayer e Tetracell Sejam 48, 64 ou 108 megapixels a maioria dos atuais sensores de altíssima resolução em celulares tem uma coisa em comum enquanto o sensor propriamente dito tem 108 milhões de "baldes de água" ou sensores de luz, o filtro Bayer acima dele tem uma resolução quatro vezes menor. Portanto, há quatro pixels sob cada filtro de cor. Sejam sensores Tetracell da Samsung ou Quad Bayer de outras fornecedoras em cada vez mais sensores de imagem, quatro pixels compartilham um filtro de cor / © NextPit É claro, isso é tudo o que os departamentos de marketing mais gostam para usar nas fichas técnicas. Um sensor de 48 megapixels! 108 megapixels! Três sensores de 64 MP! E quando está escuro, os minúsculos pixels podem ser combinados em superpixels maiores para oferecer fotos noturnas melhores. Paradoxalmente, porém, muitos celulares mais baratos não oferecem nem mesmo a opção de tirar fotos com 48 megapixels — ou até mesmo oferecem uma qualidade de imagem inferior nesse modo em comparação com o modo de 12 megapixels. Em todos os casos que conheço, os celulares também são tão mais lentos ao tirar fotos com resolução máxima, que o aumento moderado na qualidade não vale a pena — especialmente porque 12, 16 ou 27 megapixels são suficientes para o uso diário e não enchem a memória tão rapidamente. A mensagem de marketing de dezenas de megapixels pode ser ignorada. Mas na prática, os sensores de alta resolução costumam também ser maiores — e a qualidade da imagem se beneficia notavelmente disso. O sensor SuperSpectrum da Huawei trocando o verde e amarelo Há ainda algumas técnicas inspiradas na matriz Bayer. A Huawei, como exemplo mais destacado, conta com a chamada matriz RYYB para alguns sensores ver gráfico acima, na qual o espectro de absorção dos pixels verdes é deslocado para o amarelo. Isto tem a vantagem — pelo menos no papel — de que mais luz é absorvida e mais fótons chegam ao sensor no escuro. Os diagramas de eficiência quântica mostram quão sensivelmente diferentes sensores reagem à luz de diferentes comprimentos de onda. No caso do sensor RYYB ou RCCB à direita, o intervalo sob a curva de absorção verde ou amarela, ou seja, a sensibilidade à luz, é significativamente maior. Por outro lado, os pixels amarelos respondem mais à "faixa de frequência vermelha", o que torna mais difícil o desmosaico / © Sociedade de Ciência e Tecnologia de Imagem Por outro lado, os comprimentos de onda medidos pelo sensor não estão mais tão uniformemente distribuídos no espectro e tão claramente separados uns dos outros como em um sensor RGGB — caso da linha verde interrompendo sua queda no espectro de onda vermelha no gráfico acima à direita. A fim de manter uma reprodução de cor precisa, aumentam as exigências sobre os algoritmos, que devem posteriormente interpolar os valores de cor RGB. É impossível prever qual abordagem produzirá as melhores fotos. Neste caso, só os testes práticos e laboratoriais que provam que uma ou outra tecnologia está correta. Leia também Teste cego de câmeras 2021 o NextPit escolhe a melhor câmera de celular! Software da câmera o algoritmo faz a música Finalmente, gostaria de dizer algumas palavras sobre os algoritmos que acabei de mencionar. Especialmente na era da fotografia computacional, o conceito de fotografia está se tornando difuso. Uma imagem formada por doze fotos individuais ainda é realmente uma fotografia no sentido original? Uma coisa é certa a influência dos algoritmos de processamento de imagem é muito maior do que um aumento discreto da área do sensor. Sim, uma diferença de duas vezes a área faz uma grande diferença. Mas um bom algoritmo também compensa muita coisa. A líder global do mercado de sensores, a Sony, é um bom exemplo disso. Embora a maioria dos sensores de imagem pelo menos tecnologicamente venha do Japão, os smartphones Xperia costumam ficar atrás da concorrência em termos de qualidade de imagem. O Japão pode fazer hardware, mas quando se trata de software, os outros estão mais avançados. Duas fotos do Samsung Galaxy S10. À esquerda, foi usada a câmera do Google, à direita, o aplicativo da própria Samsung. O modo HDR do Google é superior ao da Samsung. Não é de admirar que muitas pessoas baixem a câmera do Google / © NextPit E aqui vai outra dica sobre a sensibilidade ISO, que também merece seu próprio artigo por favor, nunca fique impressionado com os números ISO, pois os sensores de imagem em quase todos os casos* têm uma única sensibilidade ISO nativa que é muito raramente encontrada nas fichas técnicas. Os valores ISO que o fotógrafo ou o sistema automático da câmera definem durante o clique real são mais como uma compensação — ou seja, um "controle de brilho". O "comprimento" da escala para este controle de brilho pode ser definido livremente, portanto escrever um valor como "ISO nas especificações faz tanto sentido quanto escrevê-lo na ficha técnica de um VW Golf... Bom, vamos deixar as coisas assim. * Existem na verdade alguns sensores "dual ISO" com duas sensibilidades nativas no mercado de câmeras, por exemplo o Sony IMX689 no Oppo Find X2 Pro, pelo menos é isso que o Oppo diz. Caso contrário, é mais provável que você encontre o que está procurando em câmeras profissionais como a BlackMagic PCC 6K. Autofoco PDAF, 2x2 OCL e outras técnicas Finalmente, um pequeno ponto que está diretamente relacionado ao sensor de imagem o tópico do foco automático. No passado, os celulares determinavam o foco correto usando o foco automático por contraste. Esta é uma detecção lenta e computacionalmente intensiva. A maioria dos sensores de imagem atuais usa o chamado "autofoco por comparação de fases", também conhecido como PDAF phase detect autofocus. Neste caso, são instalados pixels especiais de autofoco no sensor que são divididos em duas metades, comparam as fases da luz incidente e podem usá-los para calcular a distância até o objeto. A desvantagem desta tecnologia é que o sensor de imagem é "cego" nestes pontos — e dependendo do sensor, estes pixels cegos de foco podem afetar até três por cento da superfície do componente. O Oppo Find X2 Pro ajusta o foco incrivelmente rápido no modo de vídeo graças ao sensor OCL 2x2 / © NextPit Apenas um lembrete quanto menor a área, menos luz/água e menor a qualidade de imagem. Além disso, os algoritmos têm que retocar estas imperfeições como seu cérebro faz com o ponto cego. No entanto, há uma abordagem mais elegante que não inutiliza pixels no sensor. Neste caso, as microlentes que já estão presentes no sensor são distribuídas em vários pixels. A Sony, por exemplo, chama isso de 2x2 OCL ou 2x1 OCL, dependendo se as microlentes combinam quatro ou dois pixels. Quatro pixels sob um filtro colorido sob uma microlente a tecnologia OCL 2x2 da Sony transforma todos os pixels em sensores cruzados para foco automático / © Sony Em breve dedicaremos um artigo separado e mais detalhado ao foco automático. O que você procura em uma câmera quando compra um novo celular? E sobre quais tópicos em torno da fotografia com celulares você gostaria de ler a respeito? Aguardo com expectativa seus comentários! Mais artigos sobre câmeras de celulares Guia fotográfico para smartphone para que serve a abertura Câmera do celular sem foco? Saiba como resolver esse problema
Smartphoneyang diperkenalkan pada ajang Mobile World Congress 2017 ini juga dilaporkan mengusung sensor buatan Sony. Moto G5 Plus yang mengusung resolusi kamera 12MP diketahui mengusung sensor kamera Sony IMX362 dengan PDAF dan aperture f/1.7.. Hasil jepretan sejernih wajah mantan yang sudah move on dengan orang lain deh bro! Bikin nyesek
A CMOS sensor is an electronic chip that converts photons to electrons for digital processing. CMOS complementary metal oxide semiconductor sensors are used to create images in digital cameras, digital video cameras and digital CCTV cameras. CMOS can also be found in astronomical telescopes, scanners and barcode readers. The optical technology is used in machine vision for robots, in optical character recognition OCR, in the processing of satellite photographs and in the enhancement of RADAR images, especially for meteorology. Like other semiconductor technologies, CMOS chips are produced by photolithography. The chips feature an array of minute light-capturing cells that pick up the photons at their various wavelengths as focused by a lens, translating them into electrons, much like a tiny solar cell. The CMOS cells are surrounded by transistors, which amplify the charge of the electrons gathered by the cells, sending them across the chip by tiny wires in the chip’s circuitry. A digital-to-analog converter at one corner of the device reads the electrons and translates the differing charges of individual cells into pixels of various colors. CMOS’ low manufacturing cost makes it possible to create low-cost consumer devices. Advances in CMOS technology have made it possible for them to approach their competitor in high-end digital cameras, charge-coupled devices CCD. In contrast to CMOS, CCD cells are not surrounded by transistors and must actively use power to gather light. This makes them less power-efficient but also enables the benefits of a lower-noise image and greater light sensitivity. This was last updated in February 2018 Continue Reading About CMOS sensor Super Sensitive Sensor Sees What You Can't What is the Exmor R™ CMOS Sensor and how does it work? Crack CMOS' memory space What is the difference between CCD and CMOS image sensors in a digital camera?
HuaweiP40 Series Has The Largest CMOS Sensor Yet, Front Camera Records In 4K. For gadget enthusiasts who do not give a darn care about Google services and who care more about mobile photography, Huawei P40 Series is for you. The new P series now comes in three flavors: Il nuovo top di gamma dell'azienda presenta oltre 400 nuove
Pengertian CMOS Complementary Metal Oxide Semiconductor dan Cara Kerja CMOS – CMOS adalah singkatan dari Complementary Metal Oxide Semiconductor atau dalam bahasa Indonesia dapat diterjemahkan menjadi Semikonduktor Oksida Logam Komplementer. Teknologi CMOS adalah salah satu teknologi yang paling popular di industri desain chip komputer dan biasanya digunakan untuk membentuk Sirkuit Terintegrasi atau lebih umum disebut dengan IC Integrated Circuit dalam berbagai aplikasi. Rangkaian CMOS banyak ditemui di beberapa jenis komponen elektronika seperti Mikroprosesor, Baterai, Memori komputer dan memori ponsel pintar serta sensor gambar pada kamera digital. Yang dimaksud dengan “MOS” dalam tulisan CMOS ini adalah Transistor-transistor yang berada dalam komponen CMOS tersebut yaitu MOSFET Metal Oxide Semiconductor Field-Effect Transistors. Sedangkah huruf C yaitu “Complementary” dalam CMOS mengacu pada dua bahan semikonduktor yang dikandung oleh setiap transistor yakni semikonduktor tipe-N dan semikonduktor tipe-P. Semikonduktor tipe-N memiliki konsentrasi Elektron yang lebih besar daripada Holes lubang sedangkan semikonduktor tipe-P memiliki konsentrasi Holes lubang yang lebih besar daripada Elektron. Kedua semikonduktor ini bekerjasama dan dapat membentuk gerbang logika yang sesuai dengan rangkaian yang dirancang. Kelebihan Transistor CMOS Transistor yang berteknologi CMOS dikenal karena penggunaan daya listriknya yang efisien. Keuntungan utama CMOS dibandingkan teknologi NMOS dan BIPOLAR adalah disipasi daya yang jauh lebih kecil. Tidak seperti sirkuit NMOS atau BIPOLAR, rangkaian MOS komplementer CMOS hampir tidak memiliki disipasi daya statis. Daya hanya akan hilang apabila terjadi peralihan dari satu keadaan ke keadaan lainnya. Hal ini memungkinkan pengintegrasian gerbang CMOS yang lebih banyak pada IC daripada teknologi Bipolar serta dapat menghasilkan kinerja yang jauh lebih baik. Transistor CMOS Complementary Metal Oxide Semiconductor pada dasarnya terdiri dari P-channel MOS PMOS dan N-channel MOS NMOS. Baca juga Pengertian Transistor dan Jenis-jenis Transistor. Simbol PMOS dan NMOS Berikut ini adalah Simbol PMOS Positive Metal Oxide Semiconductor dan NMOS Negatif Metal Oxide Semiconductor. Dalam Teknologi CMOS, baik Transistor tipe-N maupun Transistor tipe-P digunakan untuk merancang fungsi logika. Sinyal yang sama yang mengaktifkan ON salah satu tipe Transistor juga akan digunakan untuk mematikan OFF Transistor tipe lainnya. Karakteristik ini memungkinkan desain perangkat logika hanya menggunakan sakelar sederhana tanpa perlu menggunakan resistor pull-up. Jadi, jika transistor tipe-P dan tipe-N memiliki gerbang yang terhubung ke input yang sama, MOSFET tipe-P akan ON ketika MOSFET tipe-N dalam keadaan OFF, dan sebaliknya. Jaringan diatur sedemikian rupa sehingga yang satu ON dan yang lainnya OFF untuk pola input apa pun. CMOS menawarkan kecepatan yang relatif tinggi, disipasi daya rendah, margin noise tinggi di kedua statusnya dan akan beroperasi pada berbagai sumber dan tegangan input asalkan tegangan sumber ditetapkan. Untuk pemahaman yang lebih baik tentang prinsip kerja Complementary Metal Oxide Semiconductor atau CMOS ini, kita perlu membahas secara singkat tentang gerbang logika CMOS seperti yang dijelaskan bawah ini. CMOS Inverter Rangkaian CMOS Inverter seperti yang ditunjukkan pada gambar di bawah ini. Ini terdiri dari 2 Transistor PMOS FET dan NMOS FET. Pada saat Input Vin tidak diberikan tegangan atau 0V, maka T1 akan ON dan T2 akan OFF. Arus listrik akan mengalir dari Vdd ke Vout sehingga tegangan Vout akan sama dengan Vdd atau Output Logika akan menjadi 1. Sebaliknya, apabila Vin diberikan tegangan tertentu, maka T1 akan OFF dan T2 akan ON. Arus listrik akan mengalir dari Gnd ke Vout sehingga tegangan Vout akan sama dengan Gnd atau Output Logikanya akan menjadi 0. Rangkaian sederhana CMOS Inverter dan Truth Tabel atau Tabel kebenarannya CMOS Inverter ini dapat dilihat seperti tabel dibawah ini. Speksifikasikamera Sony A7 IV Fitur utama 33MP - Sensor BSI-CMOS bingkai penuh ISO 100 - 51200( di Baca selengkapnya Review Sony A7 IV lengkap . Cara Menggunakan Pro Mode pada Kamera Smartphone lebih baik dari sebelumnya dan umumnya hampir se Baca selengkapnya Cara Menggunakan Mode Pro Kamera HP .
kualitastinggi 5MP CMOS H264 / H265 Wifi Polisi Keamanan Pada Kamera Tubuh Untuk Petugas Polisi dari Cina, Ambarella H.265 Wifi Body Camera Produk, dengan kontrol kualitas yang ketat 5MP CMOS Wifi Body Camera pabrik, menghasilkan kualitas tinggi

Connectto compatible smartphones with the simplicity of One-touch functions, for remote control, photo sharing and more. Large 1.0-type Exmor RS TM CMOS image sensor and ZEISS® 24-70 mm lens; Vlog camera ZV-1. INDIA ZV-1 VLOG SERIES. RX100 V The premium 1.0-type sensor compact camera with superior AF performance. DSC-RX100M5A (38 38)

.
  • wqh3o02t8z.pages.dev/441
  • wqh3o02t8z.pages.dev/434
  • wqh3o02t8z.pages.dev/227
  • wqh3o02t8z.pages.dev/72
  • wqh3o02t8z.pages.dev/68
  • wqh3o02t8z.pages.dev/383
  • wqh3o02t8z.pages.dev/382
  • wqh3o02t8z.pages.dev/456
  • sensor cmos pada kamera smartphone